Senin, 23 April 2018

Aceng: Media Mahasiswa Harus Menjadi Media Alternatif


Beralasan banner bekas ukuran 3 x 4 meter tidak menjadi penghambat mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di era kekinian. Berbekal dengan fasilitas yang terbatas diskusi tetap berjalan. Dengan niat ingin belajar sejumlah mahasiswa yang menggeluti Pers Mahasiswa mulai memadati tempat diskusi yang dihamparkan di kawasan hutan kelapa sawit.  

Sore itu, sinar matahari sangat terik menandakan kemarau akan datang. Suara kendaraan motor menemani jalannya diskusi bersama Aceng Mukaram. Aceng merupakan mantan aktivis Pers Mahasiswa yang sekarang aktif di media nasional maupun media internasional. Ia mengatakan  bahwa ideologi Pers Mahasiswa harus tetap hidup di era kekinian.

Pada perkembangan zaman banyak informasi yang diterima oleh masyarakat melalui sosial media tidak lagi dilihat kebenaranya. Media mahasiswa merupakan harus menjadi alternatif dalam penyebaran informasi yang produktif. “Tugas kalian sebagai Pers Mahasiswa harus memperbaiki itu semua”, ungkapnya sambil tertawa.

Aceng menilai perkembangan zaman harus dihadapi dan dipelajari bukan menghindar. Ditengah derasnya informasi membuat masyarakat cenderung menggunakan sosial media dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagian masyarakat sering membuat status dalam aktivitasnya. “Ini yang menjadi salah arti dalam kehidupan nyata kita sudah tidak normal setiap hari kerjaan manusianya di depan gawai gadget tapi tidak tahu apa sih kegunaannya”, paparnya.

Dari pantauan reporter terlihat Prosedur TV One, Gunawan Budi Susilo yang hadir ikut duduk membaur dengan aktivis pers mahasiswa. Gunawan menjelaskan bahwa dalam berkecimpung dalam dunia jurnalistik harus mengkaji elemen jurnalistik. Jurnalis harus memahami utuh setiap poin yang disampaikan oleh karya Bill Kovach.


Share:

Rabu, 15 November 2017

Bersahabat dengan Internet Baik bagi Generasi JAMAN NOW!!!

Program Internet Baik yang diselenggarakan oleh Telkomsel di Pontianak pada hari Rabu, 15 November 2017 melaksanakan workshop mengenai Edukasi Pendidikan, Blogger, dan Video Maker. Workshop Edukasi Pendidikan yang diisi oleh Bapak Hilman Almadani, seorang trainer, konselor, psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati, mendapatkan perhatian paling besar. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah kuota peserta yang seharusnya hanya 25 orang per kegiatan, nyatanya membludak hingga  mencapai 36 orang.

Bpk Hilman Al Madani


Berbagai alasan peserta yang tertarik mengikuti kegiatan edukasi pendidikan dalam menggunakan internet secara baik bagi generasi milenial (generasi Y) atau bahkan yang saat ini terkenal dengan sebutan generasi JAMAN NOW! Bapak Ibnu Amir yang merupakan Ketua Lembaga Mutiara Islam Khatulistiwa yang menaungi SDIT Al-Karimah Pontianak misalnya. Beliau mengatakan “Kebutuhan akan mengedukasi anak sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai masalah anak JAMAN NOW yang selalu tidak lepas dalam kebutuhannya dalam menggunakan internet.”


Wawancara Bpk Ibnu Amir (sisi kanan)

Masalah-masalah yang dikemukakan dalam kelas edukasi pendidikan begitu banyak, namun inti utama yang dibahas berkenaan tentang anak-anak saat ini yang kurang tepat dalam memanfaatkan media handphone dan internet sehingga menyerap konten-konten yang kurang tepat yang disajikan. Begitu pula ujaran-ujaran kebencian yang banyak sekali tersaji di media sosial ataupun informasi-informasi yang mudah ditemukan di dalam konten-konten tertentu. Hal tersebut seolah-olah membuat anak justru tidak bisa bersahabat dengan baik dengan internet lewat media handphone yang menjadi “teman” yang dekat dalam mencukupi kebutuhan mereka dalam mengakses informasi.


Salah satu slide materi


Sesuai dengan quotes yang ditawarkan dalam pelaksanaan edukasi pendidikan dalam kegiatan ini yaitu “Bahaya yang paling besar bukan anak akses pornografi atau main games seharian tapi bahaya paling besar adalah ketika orang tua tidak sadar bahwa bencana itu ada di sekitar kita (Elly Risman)”. Untuk itu, peranan orang tua adalah kunci terbaik dalam membantu generasi JAMAN NOW agar mereka dapat memanfaatkan media internet yang seharusnya membuat mereka dapat berkreasi dan berprestasi dengan baik daripada justru mengambil hal-hal yang tidak bermanfaat. Pada akhirnya generasi JAMAN NOW bukan hanya tentang hal-hal yang menunjukkan anak-anak yang tidak tau dalam memanfaatkan apa yang mereka punya, tetapi menjadi generasi pembaharu yang bermanfaat bagi banyak orang, minimal dirinya sendiri.
Share:

Selasa, 14 November 2017

Tularkan Budaya Lokal Pada Generasi Muda

Kata internet sudah tidak asing lagi di dengar oleh kalangan generasi penerus saat ini. Semua kalangan pasti membutuhkan internet untuk mencari informasi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Hadirnya internet memudahkan seseorang dalam melakukan aktivitas seperti mencari resep makanan, cara menyikat gigi baik dan sebagainya. Internet juga dapat memperbaiki kehidupan sesorang menjadi lebih baik dari sebelumnya karena internet menyimpan berbagai macam informasi yang diinginkan. Banyak kelebihan yang dapat dirasakan dengan hadirnya internet. 
Sumber ://www.balipost.com

Disisi lain, internet juga dapat melahirkan kebiasaan baru serta menggesarkan kebiasaan lama, satu diantarnya penggunaan media sosial yang sering digunakan semua kalangan termasuk generasi penerus di kawasan perkotaan. Kebiasaan yang dilakukan generasi penerus seakan menjadikan media sosial sebagai aktivitas rutin setiap harinya. Dari kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akan menciptakan sebuah budaya baru. Padahal kehadiran internet dapat memberikan peluang bagi generasi penerus untuk memperkenalkan kepada khalayak ramai budaya lokal yang masih bertahan sampai sekarang. Selain itu, banyak juga budaya luar masuk secara bebas diberbagai daerah serta mengenalkan budaya mereka melalui internet untuk menggantikan budaya lokal sebelum mereka hadir di daerah kita. Hal ini bisa dilihat dari pola berpakaian dan pola tingkah laku. Ini menjadi bukti nyata yang dapat ditemukan disekitar kawasan perkotaan bahwa perkembangan internet dapat merubah semuanya serta menggantikan budaya lokal, sehingga pihak terkait harus sejak dini menanamkan rasa cinta budaya lokal kepada generasi penerus agar tidak terpengaruh terhadap  budaya luar yang masuk.

Bangkitlah Generasi Penerus 

            Akhir-akhir ini banyak sekali kebudayaan kita sering sekali diakui oleh bangsa lain. Tidak heran jika begitu banyaknya budaya kita miliki, justru membuat kita tidak mengetahui apa saja yang ada di kalbar. Bahkan kita sendiri pun sebagai generasi penerus melupakan budaya sendiri, sangat ironis, orang asli tidak mengenal ciri budaya lokalnya sendiri.  Ketertarikan budaya semakin luntur serta mengakibatkan budaya lokal harus diambil oleh negara asing. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi, satu diantarnya kesamaan antara budaya suku dan rasa dengan negara tetangga (Malaysia). Ini akan menjadikan tantangan kedepannya untuk generasi penurus untuk mengambil kembali budaya lokal dan mempertahankan budaya lokal. 

Sumber : linkedin

Manfaatkan Internet

Sejak memasuki masa reformasi perkembangan internet di daerah perkotaan sudah tidak bisa dibendung lagi. Hampir setiap sudut kota di belahan dunia menyediakan sarana dan prasarana internet untuk meningkatkan pelayanan perkotaan sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan. Berbagai informasi yang ada di internet dapat diakses dengan mudahnya dalam hitung detik bahkan tak harus menunggu lama informasi tersebut pun akan muncul sesuai dengan kebutuhan. Bahkan perkembangan internet di luar negeri pun sangat cepat dan bisa diakses juga. Internet yang disajikan dalam bentuk informasi pun beraneka ragam mulai dari dunia pendidikan, ekonomi, budaya, sosial, politik dan sebagainya. Dengan adanya internet memudahkan generasi penerus agar memanfaatkan media sosial untuk mempublikasikan budaya lokal agar tetap bertahan dimasa mendatang. Untuk mewujdkan hal ini memang tidak mudah, diperlukan kesadaran dari generasi penerus itu sendiri. Hal ini harus dilaksanakan sejak dini demi keletarian budaya lokal.
 
Share:

Selasa, 18 April 2017

 Peringatan Hari Nasional Tidak Harus Seremonial
Pada bulan Mei 2016 banyak sekali peringatan hari nasional maupun internasional yang diperingati sejumlah kalangan baik melalui secara seremoni, memasang  banner di jalanan yang strategis, upload status di dunia maya dan sebagainya. Peringatan hari tersebut dimulai awal Mei yang diperingati Hari Buruh Internasional atau yang sering didengar oleh banyak kalangan yang sering disebut May Day. Lanjut pada tanggal 2 Mei memperingati Hari Pendidikan Nasional, tanggal 3 Mei Memperingati Hari Pers Internasional, tanggal 5 Mei memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW (27 Rajab 1437 Hijriah), tanggal 6 Mei memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus dan tanggal 22 Mei mendatang memperingati hari Raya Waisak 2560. 

Pada zaman modern ini arus informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni (IPTEKS) tumbuh sangat pesat. Tenaga manusia bisa digantikan oleh mesin yang mempunyai kinerja yang lebih optimal dan hanya bisa digerakkan satu sampai tiga orang. Ini contoh yang terjadi di zaman modern abad 21. Tenaga manusia yang dulunya berjumlah banyak bisa diminimalisirkan oleh datangnya teknologi. Situasi ini yang membuat pengangguran semakin meningkat karena terbatasnya lapangan pekerjaan. 

Kembali lagi pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati oleh para buruh yang dibagi atas dua klasifikasi besar yaitu: Pertama, buruh profesional biasa disebut buruh kerah putih, menggunakan tenaga otak dalam bekerja. Kedua, buruh kasar biasa disebut buruh kerah biru, menggunakan tenaga otot dalam bekerja. Sekarang timbul di benak kita apakah sih buruh itu. Merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapatkan upah.

Menurut Sugeng Santoso PN sebagai Hakim Pengadilan Hubungan Industri bahwa Mad Day identik dengan demonstrasi karena masih dipandang strategi yang efektif untuk menyampaikan aspirasi para buruh termasuk di dalamnya persoalan yang dihadapi buruh. Namun, permasalahan buruh sebenarnya permasalahan sederhana. Alasannya, pertama, permasalahan yang terjadi antara buruh dan pengusaha pada dasarnya terletak pada kurang adanya jaminan kesejahteraan baik berupa jaminan pekerjaan maupun adanya penghasilan yang terus menerus. Kedua, kurang optimalnya perlindungan dari negara terhadap tindakan sewenang – wenang pengusaha yang secara posisi ekonomi lebih kuat dibandingkan buruh. Seperti yang kita lihat sekarang banyak permasalahan klasik yang dirasakan oleh para buruh hingga kini masih terus berlanjut sampai sekarang mulai dari mudah hingga sulit. 
Memasuki hari kedua bulan Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan menjadi salah satu faktor kemajuan bangsa Indonesia untuk meningkatkan kualitas diri, tapi pernahkah kita berpikir bahwa pendidikan kita selama ini masih sangat belum merata dan membutuhkan peningkatan kualitas. Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 masalah pendidikan sampai sekarang masih di bahas oleh sejumlah kalangan seperti mahasiswa dan dinas pendidikan. Masalah yang sering di bahas adalah kurikulum, sebenarnya pergantian kurikulum itu perlu karena merupakan inovasi dan kurikulum sebelumnya. 

Menghadapi MEA itu keterampilan menggunakan teknologi sangat penting, sehingga harus diberlakukannya kurikulum 2013 dengan melakukan perbaikan terhadap murid, guru, dan sistem pembelajaran. Permasalahan selanjutnya yakni terletak pada guru yang merupakan ujung tombak pendidikan. Tetapi pada zaman modern ini guru minim mendapatkan pelatihan aplikatif dan berkualitas. Permasalahan selanjutnya terletak pada budaya literasi di kalangan guru masih sangat lemah. Banyaknya permasalahan yang terjadi di tempat tinggal kita harus di bahas secara secara kontinu agar menemukan jalan keluar, jangan hanya pada saat hari Pendidikan Nasional. 
Semoga apa yang disampaikan oleh penulis dapat menjadi bahan evaluasi dan bisa di jadikan renungan untuk menuju Kalimantan Barat khususnya agar lebih baik kedepannya.
Share:

Rabu, 22 Maret 2017

Budaya Lokal Harus Tetap Hidup

 
Globalisasi telah di ambang pintu sehingga mau tidak mau harus dihadapi dengan lapang dada karena batas-batas setiap negara dalam beberapa hal akan hilang seolah-olah dunia telah menjadi satu kesatuan. Globalisasi berarti ilmu pengetahuan dan teknologi, serta hasilnya akan menguasai dunia, sehingga dalam waktu singkat di berbagai kondisi di dunia dapat di akses dengan cepat.Di samping itu, makin sempitnya lapangan kerja yang memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dinegaranya akan dialihkan ke negara yang memerlukan dan bersamaan dengan upaya melakukan investasi modal di negara lain. Contohnya produksi kendaraan bermotor telah membanjri Indonesia, bahkan akhir-akhir ini produksi kendaraan di Indonesia telah di ekspor di negara lain. Hal ini menjadikan globalisasi seaakan tiada batasnya dalam melakukan sebuah investasi ekonomi. Selain itu,globalisasi juga akan terus berkembangsesuai dengan kemajuan teknologi, sehingga sedikit akan membuat sejumlah budaya lokal mulai pudar. Hal ini akan menjadikan sebuah tantangan untuk mempertahankannya.

Budaya Lokal Tetap dilestarikan 
Banyak hal yang perlu dilakukan agar budaya tetap ada di masa mendatang sehingga generasi mendatang bisa menikmatinya dan melestarikannya. Dalam hal ini diperlukan upaya setiap elemen masyarakat untuk mendukung pelestarian budaya lokal di kalangan remaja sebagai penerus.Akibatnya budaya lokal sulit ditemui. satu diantaranya agar pelestarian tetap berjalan adalah memperkenalkan dan menanamkan nilai budaya lokal sejak dini. Selain itu akan menjadikan ciri khas di daerah tertentu. untuk sekarang, budaya lokal semakin pudar di kalangan remaja dan digantikan dengan budaya barat seperti perayaan hari, break dance, beat box dan lainnya. Akankah budaya barat akan membuat kalangan remaja hanyut dalam budayanya. Semua ini menjadikan tantangan remaja di masa mendatang.

Pentingnya Budaya Lokal 
Sudah banyak kasus bahwa budaya kita banyak yang dicuri karena ketidakpedulian para generasi penerus, dan ini merupakan pelajaran berharga karena kebudayaan lokal asal Indonesia adalah harta yang mempunyai nilai yang cukup tinggi di mata masyarakat dunia.Dengan melestarikan budaya lokal,supaya budaya kita tidak diakui oleh negara lain dan kita bisa menjaga budaya bangsa dari pengaruh budaya asing.Tetapi masyarakat kita kini sudah banyak meninggalkan nilai-nilai tersebut, padahal inilah identitas budaya kita. Jangan sampai kita terjajah oleh budaya luar bukan hanya kebudayaan kita tetapi cara berbicara kita pun sudah mulai terjajah. Kita lancar berbahasa inggris atau bahasa luar lainnya tetapi mengapa kita tidak tahu bahkan tidak bisa berbicara bahasa daerah kita sendiri.Para pemuda tahu & bahkan semangat untuk belajar breakdance dan tarian-tarian luar,sedangkan tidak mau belajar tarian-tarian tradisional atau tarian budaya kita sendiri. Merekapun lebih mengenal lagu-lagu dari luar dibanding lagu daerah Indonesia. Haruskah budaya indonesia hilang begitu saja..!!!!

Mahasiswa Fakultas Pertanian Untan
Share:

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.